Haid Saat Berhaji Bisa Disiasati, Ini Caranya

Rabu, 25 July 2012   Tags: haid, haji   Views: 4254


Haid adalah perdarahan yang rutin terjadi pada perempuan dengan kesehatan normal. Pada hari-hari biasa, perdarahan yang siklusnya berulang setiap 21-35 hari itu tidak menimbulkan gangguan atau hambatan berarti, tapi tidak demikian ketika seorang perempuan melaksanakan ibadah haji.
 
Muslim perempuan yang sedang haid saat berhaji dilarang melakukan thawaf, shalat wajib dan sunah, berdiam di masjid serta membaca Al Quran dan hanya boleh melakukan sa`i, wuquf di Arafah, mabit, melontar jumroh, memotong rambut dan berdoa.
 
Kondisi yang demikian kurang menyenangkan bagi sebagian besar perempuan muslim yang berhaji. "Tapi ini bisa disiasati," kata Dr dr Dwiana Ocvianti dari Departemen Obstetri Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).
 
Dokter yang akrab disapa Ocvi itu menjelaskan, dengan bantuan dokter, calon jamaah haji perempuan bisa mengelola siklus haidnya supaya tidak mengganggu ritual haji.
 
Untuk itu, katanya, calon jemaah perempuan harus terlebih dulu memeriksakan diri dan berkonsultasi dengan dokter paling lambat satu bulan sebelum tanggal keberangkatan.
 
Pemeriksaan dan konsultasi, kata dia, diperlukan untuk mendeteksi adanya kelainan organ reproduksi atau kondisi lain yang dapat menimbulkan komplikasi bila diperlukan obat pengatur haid. "Kalau hasilnya bagus, dokter dapat merencanakan pemberian obat pengatur haid yang paling sesuai dengan kondisi kesehatan yang bersangkutan," katanya.
 
Ia menjelaskan, obat yang digunakan untuk mengatur haid berisi hormon progesteron atau gabungan hormon progesteron dan estrogen.
 
Obat yang mengandung progesteron, menurut dia, biasanya berupa pil satuan dalam kemasan biasa yang harus dimakan setiap hari. "Bisa berupa pil KB untuk ibu menyusui dalam bentuk kemasan untuk 28 hari dengan jenis pil yang sama," katanya.
 
Ia menambahkan, obat yang mengandung progesteron dan estrogen umumnya adalah pil KB yang terdiri dari dua jenis obat dalam satu kemasan untuk 28 hari atau satu jenis obat dalam satu kemasan untuk 21 hari yang hanya mengandung pil aktif.
 
Kemasan 28 hari, dijelaskannya, berisi 21 tablet pil aktif dengan bentuk dan ukuran sama serta tujuh tablet berupa pil plasebo (bukan obat) dengan ukuran berbeda.
"Selain itu, dapat juga digunakan pil untuk terapi sulih hormon, baik dalam kemasan satuan maupun dalam kemasan paket untuk 21 hari atau 28 hari," katanya.
 
Lebih lanjut ia menjelaskan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan obat pengatur haid yakni riwayat kesakitan dan gangguan kesehatan.
 
Calon jamaah yang punya riwayat tromboflebitis atau tromboemboli, migrain, varises berat, kanker payudara, perdarahan dari vagina yang belum diketahui penyebabnya, gangguan fungsi hati, penyakit kuning, preklamsi dalam kehamilan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kencing manis, hipertensi berat, depresi dan gangguan jiwa, serta harus mengonsumsi obat secara rutin, menurut dia, tidak diperbolehkan mengonsumsi obat pengatur haid.
 
"Karena bila kondisinya demikian, dikhawatirkan malah dapat memperberat gangguan kesehatannya," kata dr Ocvi.
 
Jenis Pengaturan
Dokter Ocvi mengatakan, pengaturan haid bisa dilakukan dengan menunda masa haid, memajukan masa haid atau memperbaiki siklus haid yang tidak teratur.
 
Menurut dia, penundaan masa haid merupakan upaya pengelolaan masa haid yang paling sering dilakukan dan untuk itu biasanya digunakan pil progesteron saja atau pil kombinasi.
 
"Pada penggunaan pil kombinasi, yang digunakan hanya pil aktif, pil plasebo yang tidak dimakan. Paling ideal pil mulai digunakan pada hari kedua hingga kelima haid atau selambatnya 14 hari sebelum hari pertama haid yang ingin ditunda," katanya.
 
Penggunaan pil untuk menunda masa haid tersebut, katanya, mesti dihentikan segera setelah penundaan haid tidak diperlukan lagi dan haid akan datang dua hari atau tiga hari setelah penggunaan pil dihentikan.
 
Sementara pengelolaan dengan memajukan siklus haid, menurut dia jarang sekali dilakukan, karena umumnya hanya diperlukan perempuan yang siklus haidnya lebih dari 35 hari.
 
"Untuk memajukan siklus haid, digunakan pil progesteron mulai hari kelima haid, dan dihentikan penggunaannya tiga hari hingga lima hari sebelum masa haid yang diinginkan atau setidaknya hari ke-19 haid," katanya.
 
Sementara untuk memperbaiki siklus haid yang tidak teratur, menurut dia, umumnya digunakan pil KB atau pil kombinasi. "Untuk ini, paling baik dimulai tiga sampai enam bulan sebelum tanggal keberangkatan," katanya.
 
Kendati tidak berat namun penggunaan obat pengatur haid berdampak spesifik terhadap penggunanya.
 
Gangguan yang dapat muncul pada penggunaan obat pengatur haid, katanya, antara lain rasa mual, muntah, sakit kepala, nyeri payudara (umumnya pada pengunaan pil kombinasi dengan estrogen), perdarahan bercak (lebih sering pada penggunaan pil yang mengandung progesteron), dan peningkatan berat badan.
 
Peningkatan berat badan, menurut dia, bisa dihindari dengan tidak mengonsumsi makanan secara berlebihan sedangkan untuk menghindari perdarahan pil sebaiknya dikonsumsi pada saat yang sama setiap hari.
 
"Jangan sampai lupa. Dan bila terjadi perdarahan bercak, tambahkan satu pil setiap hari dan kurangi aktifitas sebanyak mungkin. Konsumsi obat yang membantu penghentian darah, hentikan tambahan pil satu hari setelah perdarahan bercak berhenti," jelasnya.
 
Apabila perdarahan bercak tidak juga berhenti, ia menjelaskan, kondisi itu bukan haid tapi kondisi yang terjadi akibat reaksi hormon yang tidak wajar sehingga perempuan muslim yang bersangkutan bisa tetap menjalankan semua ritual ibadah haji.
 
"Tentunya setelah membersihkan daerah kewanitaan, mengganti pembalut dan berwudhu sebelum beribadah," kata dr Ocvi.
comments powered by Disqus