Penjual Getuk dan Tiwul Itu Menabung 10 Tahun Untuk Berhaji

Senin, 14 August 2017   Tags: Penjual Getuk dan Tiwul, Menabung 10 Tahun, Berhaji   Views: 212
Haji adalah panggilan, demikian orang bijak sering mengatakan. Pesan ini bisa dipahami juga sebagai haji bukan urusan kekayaan dan kemampuan finansial, tapi kemauan karena memang sudah mendapat panggilan.


MCH

Jadi, jamaah haji tidak selalu harus kaya harta. Bisa saja mereka adalah orang yang kaya niat dan mendapat panggilan Yang Maha Kaya. Labbaikallahumma Labbaik… Kami penuhi panggilan-Mu, ya Allah.

Senyum mengembang di bibir Sujinah saat berbagi kisah tentang perjuangan hidupnya hingga bisa berangkat haji di usianya yang sudah 60 tahun. Di tengah siang, Sujinah baru pulang salat Zuhur berjamaah di Masjid Nabawi. Ia tiba di Madinah pada Minggu, 30 Juli 2017, langsung menjalani prosesi Arbain atau salat berjamaah selama 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi.

Sambil antre lift untuk kembali ke kamar hotel, jamaah yang tergabung dalam kloter 5 Embarkasi Surabaya (SUB 05) ini kembali merenda ingatan tentang kehidupan puluhan tahun silam. 

"Saya mendaftar dari tahun 2010 dan tahun ini akhirnya berangkat. Alhamdulillah," kata Sujinah mengawali kisahnya di Hotel Mawaddah Annur, tempat dia dan rombongannya tinggal.

Sujinah berasal dari Nganjuk, Jawa Timur. Berhaji sudah menjadi cita-citanya sejak lama, meski dia sadar kalau dirinya bukanlah orang berpunya. Karenanya, dia harus menabung, menyisihkan sebagian hasil kerja kerasnya jualan getuk di pasar tradisional Primbon, Nganjuk.

Sedikit demi sedikit, uang itu ditabung hingga merentang waktu sampai 10 tahun. Maklum, sebagai penjual getuk, tiwul dan makanan tradisional berbahan dasar singkong ini penghasilannya tidak seberapa, pun juga tidak menentu.

Namun, Sujinah berusaha istiqamah dalam menabung. Uang hasil jualannya sebagian ditabung, sisanya untuk makan. Kadang ia setor ke bank dua pekan sekali sebesar Rp 200 ribu. "Setorannya tak menentu, tergantung hasil jualan dapat berapa," katanya.

Sujinah pantang menyerah, meski harus bekerja seorang diri karena suaminya sudah meninggal 15 tahun silam. "Anak saya satu, perempuan. Alhamdulillah sudah menikah dan punya anak tiga. Jadi cucu saya ada tiga, lucu-lucu," ujarnya.

Selang sepuluh tahun, uang tabungan yang terkumpul sudah cukup. Sujinah pun mendaftar haji pada tahun 2010. Tujuh tahun menunggu, kini Sujinah telah menginjakkan kakinya di Tanah Suci, Madinah Al-Munawwarah. Jaraknya semakin dekat dengan Kota Kelahiran Nabi, Makkah Al-Mukarramah.

Rasa syukurnya pun membuncah karena   harapannya untuk menyempurnakan rukun Islam kelima semakin terbayang nyata. Kini, Sujinah hanya berjarak beberapa km dan beberapa hari dari momen puncak haji, Wukuf di Arafah.

Labbaikallahumma Labbaik… Kami penuhi panggilan-Mu, ya Allah. (MCH)
comments powered by Disqus