Pemilik Warung Mungil, Mabrur Sebelum Berhaji
Jumat, 03 August 2012 Tags: asep sudrajat, mabrur, haji Views: 1107

Seorang pria berusia 61 tahun bernama Asep Sudrajat menghidupi keluarganya dengan membuka sebuah warung kecil di sebuah jalan di kota Bandung, Jawa Barat. Asep dan istrinya, Asih, adalah tipe Muslim yang selalu bersyukur atas setiap nikmat yang mereka terima, dan bersabar atas segala ujian.
Hampir 20 tahun mereka menabung demi mewujudkan sebuah cita-cita mulia yang mereka tanamkan kuat-kuat dalam hati, yakni berhaji ke Tanah Suci. Dan, niat itu sungguh-sungguh dibuktikan dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit hasil warung mereka yang seadanya.
Suatu malam, Asep dan Asih menghitung tabungan mereka. Alhamdulillâh, saat itu jumlahnya sudah mencapai Rp. 50.830.000 dan hampir mencukupi ongkos naik haji yang saat itu besarnya cuma Rp. 27 juta per orang. Mereka hanya perlu menambah sedikit lagi agar benar-benar pas. Paling tidak jika mereka menabung selama satu tahun lagi, uang tersebut akan mencukupi. Maka, niat pun ditoreh. Mereka akan mendaftar haji tahun depan. Hari-hari berikutnya, Asep dan Asih semakin giat berdagang agar bisa lebih banyak menyisihkan hasil jualan mereka.
Suatu pagi, Asep mendapat kabar bahwa Kang Endi, kawan karibnya sesama jamaah shalat di Masjid As-Shabirin, mendadak sakit. Ia dirawat di RS Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Asep pun segera menjenguknya.
Sesampai di sana, Kang Endi masih di ruang ICU. Diagnosis dokter menyatakan ia menderita tumor tulang yang cukup ganas dan musah menjalar. Asep bergidik juga mendengarnya. Namun, ia masih terus membesarkan hati sahabatnya itu untuk selalu bersabar, tawakal, dan terus berdoa.
Hampir tiap hari Asep datang menjenguk. Pada hari kedelapan, Kang Endi dipindahkan ke ruang kelas 3 bersama tujuh pasien lainnya dalam satu kamar yang pengap, berbau tidak sedap, dan cukup berantakan.
Di hari kesebelas, saat Asep sedang di sana, seorang perawat membawakan surat dari pihak RS yang berisi tawaran untuk membuang tumor itu dengan jalan operasi. Biayanya hampir Rp. 50 juta. Itulah ikhtiar terbaik untuk menyembuhkannya. Namun, karena keadaan ekonomi yang sangat terbatas, keluarga Kang Endi cuma bisa gigit jari.
Kondisi Kang Endi semakin parah. Badannya semakin kurus dan lemah. Sorot matanya kian meredup dan tak bisa bicara lagi. Hati Asep semakin tersentuh. Maka, di pinggir ranjang sahabatnya yang terkulai tak berdaya, Asep mengambil sebuah keputusan besar. Setelah berpamitan dengan keluarga Kang Endi, ia bergegas pulang. Sesampai di rumah, Asep menyampaikan keputusannya kepada Asih.
“Bu, kondisi Kang Endi semakin memburuk. Bapak tidak sanggup melihat penderitaannya,” papar Asep lirih sambil menceritakan solusi yang ditawarkan pihak rumah sakit.
Asih merasa iba juga mendengar penuturan suaminya. “Kasihan mereka ya, Pak! Kita bisa bantu apa?”
Asep langsung menyambung, “Kalau ibu berkenan, bagaimana bila dana tabungan haji kita berikan saja kepada mereka semua untuk biaya operasi?”
Asih sempat kaget. “Diberikan? Waduh, pak, hampir 20 tahun kita menabung. Masa cita-cita ini pupus seketika dengan membantu orang lain?” tutur Asih memelas.
“Bu, banyak orang yang berhaji tapi belum tentu mabrur di sisi Allah. Mungkin ini adalah jalan buat kita untuk meraih keridhaan Allah. Bapak yakin bila kita menolong saudara kita, insyâ Allâh, kita pun ditolong Allah,” nasehat Asep.
Kalimat demi kalimat dari lidah suaminya yang penuh wibawa itu menyirami relung hati Asih. Istri shalihah ini pun akhirnya mengangguk setuju atas usul suaminya.
Keesokan pagi, Asep dan Asih datang berdua ke rumah sakit. Mereka kemudian mengajak bicara istri Kang Endi sekaligus menyerahkan uang tersebut.
Istri Kang Endi tersentak, menangis, dan tidak bisa berkata apa-apa. Suasana haru pun menyelimuti mereka. Uang itu segera dibawa oleh salah satu anggota keluarga Kang Endi ke bagian administrasi rumah sakit. Formulis kesediaan menjalani operasi telah diisi. Besok pagi jam 08.00 operasi tumor Kang Endi akan dilakukan. Alhamdulillâh!
Esoknya, sebelum operasi, dokter spesialis tulang yang selama ini menangani Kang Endi sempat berbincang dengan pihak keluarga. “Doakan ya, agar operasi berjalan lancar! Oya, kalau boleh tahu, darimana dana operasi ini?” tanya dokter yang tahu persis kondisi ekonomi keluarga Kang Endi.
Istri Kang Endi menjawab, “Alhamdulillâh, ada seorang tetangga kami yang membantu, Dok. Namanya Pak Asep.”
“Memangnya, beliau usaha apa? Kok mau membantu dana hingga sebesar itu?” Di benak sang dokter, pastilah Asep adalah seorang pengusaha sukses.
“Dia Cuma usaha warung kecil saja kok di dekat rumah kami. Saya sendiri nggak percaya waktu dia dan istrinya memberikan bantuan sebesar itu,” tambahnya.
Alhamdulillâh, akhirnya operasi berjalan lancar. Seluruh keluarga serta dokter dan para perawat merasa gembira. Kang Endi tinggal menjalani masa penyembuhan pascaoperasi. Selama itu, Pak Asep masih sering menjenguknya.
Suatu hari saat Asep menjenguk, kebetulan sang dokter sedang memeriksa Kang Endi. Keduanya pun berkenalan. Dokter itu memuji kemurahan hati Asep. Asep hanya mampu mengembalikan pujian itu kepada Allah Swt. Dokter itu kemudian meminta alamat Asep.
Beberapa pekan berlalu setelah Kang Endi pulang dari rumah sakit. Malam itu, Asep dan Asih tengah berada di rumahnya. Warung mereka belum lagi tutup. Tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan pagar rumah mereka. Sepasang pria dan wanita turun, tapi Asep dan Asih tidak bisa mengenali mereka. Begitu mendekat, tahulah Asep bahwa pria yang datang adalah dokter yang merawat Kang Endi tempo hari bersama istrinya.
Ia terlihat kikuk saat menerima mereka. Seumur hidup, ia belum pernah menerima tamu besar seperti malam itu. Setelah dipersilahkan masuk dan diberi sajian ala kadarnya, mereka pun terlibat dalam pembicaraan hangat. Di tengah obrolan, Asep menanyakan maksud kedatangan mereka. Dokter itu pun mengungkapkan niat mereka bersilaturrahim sambil menyatakan keharuan mereka terhadap pengorbanan Asep dan istrinya.
“Kami ingin belajar ikhlas seperti Pak Asep dan Ibu,” ungkap sang dokter penuh perasaan. Semua kalimat yang diucapkan sang dokter selalu dielak Asep dengan bahasa yang selalu merendah.
Sang dokter kemudian melanjutkan, “Pak Asep dan ibu, saya dan istri berniat untuk melakukan haji tahun depan. Saya mohon doa Bapak dan Ibu agar perjalanan kami dimudahkan Allah Swt. Saya yakin doa orang-orang saleh seperti Bapak dan Ibu akan dikabulkan Allah.”
Asep dan Asih berulang-ulang mengaminkannya, walau ada sedikit perasaan sedih juga di hati mereka karena tahun depan mereka juga seharusnya bisa berangkat haji. Sang dokter melanjutkan kata-katanya,
“Tapi supaya doa Bapak dan Ibu semakin dikabulkan Allah, bagaimana jika Bapak dan Ibu berdoanya di tempat-tempat yang mustajab,” papar sang dokter sambil menatap Asep dalam-dalam.
Asep sempat bingung, tapi ia beranikan diri untuk bertanya, “Maksud pak dokter?”
“Maksud kami, izinkan saya dan istri mengajak Bapak dan Ibu untuk berhaji bersama kami dan berdoa di sana sehingga Allah akan mengabulkan doa kita semua,” tutur sang dokter penuh suka cita.
Asep dan Asih tiba-tiba diam dan saling berpandangan. Suasana mendadak hening. Tak ada jawaban dari Asep maupun Asih. Hanya ada derai air mata Asep dalam pelukan erat sang dokter, dan uraian tangis Asih di pelukan istrinya. Dan, ujung malam itu, tangis Asep dan Asih semakin meledak dalam sujud-sujud yang teramat syahdu dan dalam piijar-pijar syukur yang menyala indah.
(Sumber: Suara Hidayatullah, Desember 2007, dengan judul Mabrur Sebelum Berhaji)



