Impian Pedagang Sayur Misdjoyo-Artani Menunaikan Ibadah Haji

Selasa, 01 August 2017   Tags: Impian, Pedagang Sayur, Misdjoyo-Artani, Menunaikan Ibadah Haji   Views: 132
Menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah, Arab Saudi, menjadi impian dan keinginan bagi semua umat Muslim di seluruh dunia. Hal itu karena haji merupakan salah satu Rukun Islam yang wajib dilaksanakan jika mampu.




Namun, keinginan dan impian tanpa didasari dengan niat yang tulus dan ikhlas melaksanakan Rukun Islam yang kelima hanya semata-mata karena Allah, tidaklah mungkin bisa menunaikan ibadah haji.

Di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, sepasang suami istri yang kesehariannya sebagai pedagang sayur-mayur di pasar tradisional mampu menunaikan ibadah haji karena memiliki niat tulus dan ikhlas, kendati dari pendapatan sebagai pedagang sayur yang pas-pasan.

Pasangan suami istri ini adalah Misdjoyo (60) dan Artani (55), keduanya adalah warga Dusun Karang Projo, RT 01 RW 05, Desa Alasmalang, Kecamatan Panarukan. Suami istri tersebut pada tahun 2017 ini sudah bisa berangkat menunaikan ibadah haji, setelah tujuh tahun menunggu urutan atau giliran keberangkatan ke Tanah Suci Mekkah.

Misdjoyo bersama sang istri mendaftar sebagai calon haji sejak 2010, dengan membayar uang muka atau pertama kali mendaftar hanya Rp4.000.000 dari total keseluruhan biaya haji yang harus dibayar sekitar Rp70 juta untuk dua orang.

Dan selanjutnya, kedua calon haji pedagang sayur itu membayar dengan cara mencicil setiap satu minggu, dua minggu dan bahkan hingga satu bulan sekali, tergantung omzet hasil penjualan sayur yang ditekuninya selama ini.

Berkat niat yang tulus dan ikhlas itulah, pasangan suami istri pedagang sayur ini berhasil dan mampu melunasi biaya perjalanan ibadah haji sekitar Rp70 juta selama lima tahun, tepatnya pada 2015.
  • "Karena penghasilan kami hanya dari menjual sayur kangkung dan sawi, kadang hanya mencicil untuk melunasi biaya haji Rp200.000 hingga Rp500.000 setiap satu minggu sekali. Dan kalau mendapatkan rezeki lain bisa sampai Rp1.000.000. Alhamdulillah setelah lima tahun kemudian sudah lunas dan kami berdua atas panggilan Allah berangkat ke Tanah Suci pada tahun ini," kata Misdjoyo.


Misdjoyo

Biaya haji pasangan suami istri ini, murni dari hasil kerja keras menjual sayur kangkung dan sayur sawi. Untuk sayur kangkung, Misdjoyo hanya memanfaatkan sawah miliknya berukuran satu petak kecil atau sekitar 100 m2.

Di sawah ukuran yang tidak luas itu lah, Misdjoyo dan Artani memanfaatkannya menanam sayur kangkung dan saat panen, mereka menjualnya di pasar tradisional Desa Sumberkolak, Kecamatan Panarukan.

"Kalau sayur sawi kami membeli (kulakan) kepada petani di desa lain dan bahkan biasanya kami juga membeli sawi di Kabupaten Bondowoso. Kalau di pasar kami menjual sayur kangkung Rp750 per satu ikat," tutur Misdjoyo.

Sebelum mendaftar sebagai calon haji pada 2010, menurut Artani, ia menjadi korban gendam atau hipnotis oleh seseorang dan seluruh perhiasan gelang dan kalung emas miliknya dibawa kabur oleh pelaku.

"Perhiasan emas dan uang hasil penjualan sayur milik istri saya habis ketika itu. Padahal, kami sudah memiliki niat untuk mendaftar haji dengan rencana menjual perhiasan membayar uang muka. Tetapi karena niat dan keyakinan, uang kami yang tersisa Rp4 juta langsung didaftarkan haji, sedangkan sisanya dicicil," tutur Misdjoyo.

Sementara Kepala Seksi Haji dan Umroh Kementerian Agama Kabupaten Situbondo Maulana Ahmad Ridho membenarkan bahwa pasangan suami istri pedagang sayur tersebut adalah dua calon haji dari 620 calhaj lainnya fari Kota Santri itu yang akan diberangkatkan tahun ini.

"Jadi calon haji bisa menunaikan ibadah haji itu memang dari berbagai faktor. Sementara ini masyarakat banyak menilai dari kemampuan finansial saja. Namun, pemahaman tersebut perlu dikaji ulang, karena ada beberapa hal yang perlu diperhatikan juga," katanya.

Yaitu tidak hanya memahami dari sisi finansial, tetapi juga dari sisi "panggilan" (panggilan darj Allah) yang memiliki makan sangat luas dan mendalam. Dan jika seseorang mendapatkan "panggilan" dari Allah untuk bisa sampai ke Tanah Suci, tentunya hati seseorang akan tergerak dan Allah akan membukakan jalan baik dari rezeki dan kemudahan yang lainnya.

Dari data Kemenag Kabupaten Situbondo, pada 2017 tercatat sebanyak 623 calon haji. Namun dua calhaj gagal berangkat karena meninggal dunia dan satu orang lainnya mengundurkan diri karena sakit, sehingga calhaj yang akan diberangkatkan berjumlah 620 orang.

Sebanyak 620 calon haji Situbondo akan diberangkatkan menjadi dua kelompok terbang, yakni kloter 31 dan kloter 32 yang akan diberangkatkan ke Asrama Haji Embarkasi Surabaya pada 4 dan 5 Agustus 2017.

"Bercermin" dari pasangan suami istri pedagang sayur yang mampu menunaikan ibadah haji dengan pendapatan yang pas-pasan ini, masyarakat perlu memahami dan meyakini arti rezeki, bahwa yang mengatur semuanya adalah Sang Pencipta. (Novi Husdinariyanto/Zumrotun Solichah)
comments powered by Disqus