Mendapat Tambahan Nama Muhammad dan Keseimbangan Hidup Usai Berhaji

Rabu, 15 August 2012   Tags: pencerahan batin, dwiki dharmawan, haji, keseimbangan hidup, muhammad   Views: 494
Muhammad Dwiki Dharmawan/farabimusic.com

Lagu  'Dengan Menyebut Nama Allah' meluncur syahdu dari lantunan penyanyi Novia Kolopaking. Terasa sejuk dan teduh. Mengagungkan kebesaran Allah. Musik dan liriknya menyentuh sanubari yang terdalam. 
 
Serahkanlah hidup dan matimu, serahkan pada Allah semata, serahkan duka gembiramu, agar damai senantiasa hatimu. 
 
Mencuat tahun 1991, lagu ini diciptakan oleh Muhammad Dwiki Dharmawan dan Adjie, sutradara Teater Tetas. Dwiki mengaku tidak menduga karyanya dapat diterima luas oleh masyarakat. ''Tentu saja ada perasaan bangga,'' kata Dwiki, lelaki kelahiran Bandung, tahun 1965 ini.
 
Proses penciptaan lagu tersebut tidak terlalu lama. Ketika itu Dwiki tengah terlibat persiapan pergelaran operet Idul Adha dari sebuah stasiun televisi swasta. Pengarah acaranya lantas minta dibuatkan lagu khusus bertema agama.

Dwiki merasa tertantang. ''Saya ingin membuat lagu yang menguraikan kebesaran Allah dari kata Basmallah dan dinyanyikan secara pop,'' tutur dia.
 
Kendati sudah seringkali membuat dan mengaransemen lagu, tapi untuk yang satu ini dia merasa ada getaran berbeda. Hidayah Allah datang seketika. Sewaktu mulai mencipta, jari jemarinya spontan bergerak gemulai di atas tuts piano memunculkan irama lembut. ''Pokoknya mengalir begitu saja, dan nggak bisa diuraikan dengan kata-kata,'' kenang Dwiki.
 
Keindahan irama dan lirik lagu Dengan Menyebut Nama Allah tetap abadi hingga kini. Banyak artis melantunkan kembali dengan beragam versi. Akan tetapi bagi Dwiki, kenangan ketika pertama mencipta lagu ini tidak bisa dia lupakan. Itu merupakan kali pertama dia berkesempatan menggarap lagu religius sekaligus memperdengarkannya.
 
Kali lain batiniah Dwiki tercerahkan usai menjalani ibadah haji pada tahun 2003. Segala pahit manis perjalanan rohani dia rasakan di Tanah Suci. Diceritakan, satu hari menjelang keberangkatan, Dwiki justru harus konser orkestra di Prambanan.

''Konsentrasi saya buyar. Mestinya mempersiapkan diri untuk menuju Tanah Suci, eh ternyata masih ngurusin pekerjaan,'' katanya mengenang. Jadilah Dwiki berangkat menunaikan ibadah haji dengan rasa lelah di badan dan sedikit flu.
 
Selama perjalanan dia terus berdoa dan minta ampunan kepada Allah SWT, berharap tidak terjadi sesuatu apapun yang buruk di Tanah Suci nanti. Doanya dikabulkan.

Bersama rombongan artis yang lain, Dwiki pertama kali mendarat di Madinah. Lantaran kurang istirahat, badannya tambah tidak karuan. Kendati begitu, rasa rindu untuk singgah ke Masjid Nabawi sudah memuncak. Dwiki memaksakan diri ikut.
 
Setiba di masjid tersebut, ayah satu putra ini minum air zam-zam yang ada di sana. Sehabis minum zam-zam, ''Tiba-tiba kondisi saya pulih seperti sedia kala. Flu mendadak hilang,'' ujarnya takjub. Hikmah lain adalah sewaktu rombongan haji menjalankan ibadah melempar jumrah di Mina.

Ribuan jamaah menyesaki lokasi sempit sikitar Jumrah. Dwiki menyebut perjuangan untuk dapat melempar jumrah itu sangat berat. Sambil bersesak-sesak mereka terus bergerak ke depan.
 
Dari kecil Dwiki sangat sensitif dan alergi terhadap debu. Sedikit saja kena debu, hidungnya langsung pilek. Bisa dibayangkan betapa cemasnya Dwiki saat hendak melempar jumrah dengan kondisi medan yang berdebu. Namun, kekhawatirannya tidak terjadi. ''Penyakit alergi hidung itu nggak keluar sehingga ibadah melempar jumrah bisa terlaksana baik.''

Menurut Dwiki, di kota tempat Rasulullah SAW wafat tersebut, ia bisa merasakan kontemplasi yang sulit dibahasakan. ”Setelah menjalankan yang wajib-wajib, masa kontemplasi saya rasakan ketika di Madinah,” ujarnya.
 
Saat menunaikan shalat, ia selalu membayangkan dirinya berada di Raudah dengan kondisi ketika Rasulullah masih ada. Kontemplasi yang dirasakannya sempat membawa Dwiki membayangkan suasana rumah dan kediaman Nabi, perjuangan-perjuangan Rasul menyebarkan Islam, hingga betapa beratnya jaman dahulu ketika Nabi harus hijrah sampai dilempar-lempari warga.

Kondisi tersebut dirasakan Dwiki tidak hanya ketika sedang shalat di kawasan Raudah. ”Saya bisa merasakan itu hampir di seluruh sudut-sudut masjid Nabawi, bukan hanya di Raudah saja,” ujarnya.
 
Selain di Mina, Dwiki juga mengaku mendapat kesan yang tak akan terlupakan saat di Mekah. Rombongan haji ini berkesempatan bertemu seorang imam Masjidil Haram. Sayang Dwiki tidak turut serta karena sibuk mengurus paspor. Mereka minta kepada sang imam untuk didoakan. 
 
Sebagian mereka, khususnya yang namanya tidak ada nuansa Islamnya (nama Arab--Red), merasa rikuh memperkenalkan diri. Kendati demikian, Dwiki tetap menitipkan namanya untuk didoakan.
 
Selain mendoakan, sang imam ternyata juga memberikan tambahan nama Islam (Arab) kepada anggota rombongan. Rano Karno diberi nama Abdullah, Ahong (pemain sinetron Si Doel Anak Sekolah) mendapat nama Salman Al-Farisi, nama sahabat Nabi Muhammad SAW. Adapun Dwiki memperoleh tambahan nama Muhammad. ''Sekarang nama saya menjadi Muhammad Dwiki Dharmawan,'' ujarnya bangga.
 
Pengalaman batinnya selama di Tanah Suci, benar-benar membekas dalam hati Dwiki. Kini hari-harinya senantiasa diisi dengan manfaat dan menjauhi mudharat. Dia berusaha dekat kepada Allah agar terhindar dari segala yang berbau dosa.
 
Menurut Dwiki, berhaji mampu membuatnya menyelami makna hakiki kehidupan. Intinya harus ada keseimbangan dalam kehidupan spiritual dan duniawi. Hal tersebut penting untuk lebih memahami makna ketuhanan dan keberagamaan agar tidak terjebak pada jurang materi. Akhirnya dia berkesimpulan, dalam bermusik tidak harus selalu berorientasi bisnis, karena semua yang dimiliki, termasuk bakat bermusik, hanya titipan Allah SWT.
 
Bermusik, menurut Dwiki, juga perlu keseimbangan. Sebab pada dasarnya musik bisa membawa pesan moral. Minimal, urai suami penyanyi rock Ita Purnamasari ini, bermusik harus membawa kebaikan kepada diri sendiri.(mualaf)
 
 
 
comments powered by Disqus