Pancasila, Tuhan Esa, dan Perempuan Yahudi Amerika Itu...

Sabtu, 06 May 2017   Tags: Helmi Hidayat, Pancasila, Tuhan Esa, Perempuan Yahudi Amerika    Views: 246
Dialog saya dengan perempuan Yahudi Amerika itu tak gampang saya cabut dari memori saya.
 




Oleh: Helmi Hidayat

Itu terjadi di Detroit, AS, pada 2005, ketika saya diundang keliling ke beberapa negara bagian AS untuk serangkaian dialog lintas agama. The East West Center, sebuah lembaga nirlaba yang berbasis di Hawaii, mengundang saya dan beberapa kawan dari Asia Tenggara, India, dan Pakistan untuk melakukan sebuah ''interfaith dialogue'' di antara kami dan di antara tokoh-tokoh agama di AS.
 
Maka jadilah, kami diajak keliling New York, kota megapolitan dengan ''seribu'' agama dan kepercayaan, ke Seattle untuk berdialog dengan suku-suku Indian AS, juga ke Detroit, untuk berkunjung ke kantong-kantong Yahudi, Kristen, dan Islam.

Setiapkali teringat dengan perjalanan spiritual yang mengasyikkan ini, saya selalu bertasbih dan bersyukur pada Allah SWT, Tuhan yang telah menuntun saya untuk bertemu dengan pribadi-pribadi dengan energi positif yang tulus membangun peradaban dunia dari balik baju agama-agama mereka.
 
Saya dan rombongan bertemu Brenda di rumahnya yang mewah di pinggir kota Detroit yang kering. Ia bukan hanya seorang perempuan Yahudi Amerika, tapi juga presiden semua Yahudi di Negeri Paman Sam itu.

Ketika banyak tamu datang ke rumahnya, saya tak pernah membayangkan bahwa orang penting di AS ini akan secara khusus mendatangi saya saat rehat kopi tiba. Saya sedang menyeruput kopi ketika tiba-tiba ia sudah berdiri di samping saya dan bertanya ramah: ''Are you from Indonesia?''
 
Brenda rupanya sangat tertarik dengan Indonesia, negeri dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, tapi Borobudur dan Prambanan tetap gagah berdiri di sana. Ia takjub dengan Istiqlal dan Katedral yang berdiri berdampingan. Sedikitnya dua kali dia juga memuji Soeharto, salah satu presiden terbaik di Asia yang pernah ada.
 
''Bagaimana sebagai bangsa Anda bisa hidup begitu damai?'' tanya Brenda tiba-tiba.
 
Panjang lebar lalu saya jelaskan Indonesia pada perempuan ramah ini hingga akhirnya sampailah saya pada kalimat '' .... dan kami bangga punya Pancasila yang mempersatukan kami sebagai bangsa ...'' 
 
Why? sergahnya.
 
Kata saya, para founding fathers negara saya sangat hebat dan visioner ketika memilih kata ''Tuhan'' saat merumuskan sila pertama Pancasila. Mereka yang Muslim dan Kristen tidak memaksakan kata Allah, mereka yang Hindu pun tidak memaksakan nama Shang Hyang Widhi.

Untuk bangsa yang baru berdiri dan butuh persatuan, mereka tak mau terjebak dalam pertengkaran kata denotatif ''Tuhan'', tapi justru bersatu dalam makna konotatif bahwa Tuhan pastilah Zat Maha Suci dan Maha Agung, Zat Maha Satu lagi Adi Daya.
 
Maka, lanjut saya, sekali warga Indonesia percaya pada Tuhan, warga yang lain tak peduli baju agama apa yang dikenakannya. Bertuhan adalah ukuran religiositas bangsa ini. Selagi seseorang bertuhan, itu baik-baik saja. Mereka baru menggeliat waspada jika ada anak bangsa yang terang-terangan atau sembunyi-sembunyi mengaku dan menyiarkan paham ''tidak ada tuhan''. 
 
Itulah mengapa bangsa besar ini selalu bangga mempertahankan Pancasila sebagai ''way of life'' karena setiap sila yang dikandungnya, terutama sila pertama, telah mempersatukan mereka.
 
''Orang Indonesia percaya bahwa agama adalah sumber ajaran kebaikan. Kami adalah bangsa yang religius,'' tegas saya, mumpung Brenda sedang terpana dengan penjelasan saya tentang Pancasila. 
 
''Jadi, kalau dari masjid orang jadi baik dan santun karena mendengarkan ajaran-ajaran yang baik, mengapa orang di luar Islam harus takut dan waspada terhadap masjid? Sebaliknya, jika dari gereja dan pura orang juga jadi baik karena mendengarkan kebaikan dari tempat-tempat ibadah itu, mengapa kami yang Muslim jadi takut dan khawatir terhadap rumah-rumah ibadah yang suci itu?''
 
Saya terus menyerocos tentang Pancasila dengan rasa bangga sampai akhirnya Brenda memotong dengan kata pendek yang selalu saya ingat: ''Teruslah seperti itu, supaya Indonesia selamanya menjadi laboratorium raksasa perdamaian umat agama-agama.''
 
Di tahun 2005, seorang presiden Yahudi Amerika takjub pada Pancasila yang mempersatukan Indonesia. Di tahun 2017, saya heran banyak saudara saya justru ingin mengganti dan membuang jauh-jauh ideologi ini dari Bumi Gajahmada.
comments powered by Disqus