KH Hasyim Muzadi, Islam Rahmah, dan Keturunan Tionghoa Indonesia

Jumat, 17 March 2017   Tags: KH Hasyim Muzadi, Islam Rahmah, Keturunan Tionghoa Indonesia   Views: 308
Di pagi hari ketika KH Hasyim Muzadi dikabarkan wafat, saya bertabayyun kepada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin lewat jalur pribadi. Tabayyun perlu saya lakukan karena sebelumnya, banyak berita hoax tentang wafatnya kyai besar itu bertebaran di media sosial. Begitu Menag membenarkan berita duka itu, saya menyatakan kesedihan mendalam. Tapi, di luar dugaan, Menag langsung membalas singkat:

''Gak usah sedih ...
Almarhum pastinya bahagia
berpulang untuk berjumpa Sang Kekasih.''



► Oleh Helmi Hidayat
 
Kalimat itu saya nilai punya makna yang dalam. Dengan energi negatif, orang akan menilai Menag biasa saja ditinggal ulama besar berpengaruh yang gigih menjaga multikulturalisme Indonesia. Tapi, dengan energi positif, orang segera menilai betapa Menag dengan kalimatnya itu tengah sangat berbaik sangka bahwa Kyai Muzadi adalah calon penghuni surga dengan segenap amal ibadahnya.
 
Saya mengikuti jejak Menag. Kyai Hasyim kami yakini bahagia bertemu Allah, Tuhan Maha Baik. Orang baik pasti rindu pada Yang Maha Baik. Kematian justru menjadi syarat bertemunya orang baik dengan Yang Maha Baik. Jika kita takut mati, jangan-jangan itu karena kita merasa penuh dosa, belum jadi orang baik.
 
Perkenalan mendalam saya dengan Kyai Hasyim terjadi ketika saya menjadi tim sukses almarhum sebagai calon wakil wakil presiden dalam Pemilu 2004. Bersama empat alumni Gontor - Sunandar Ibnoe Nur, Taufiq Pasee, Ilham Abdullah, dan Ade Munadi -- saya bergabung di Hasyim Center. 
 
Semua gagasan kampanye yang berkaitan dengan media televisi diserahkan kepada kami. Maka jadilah, setiap usai salat subuh, almarhum membuat rekaman televisi di bawah arahan kami. Saya dan kawan-kawan bertugas membuat tema, Sunandar menjadi presenter.
 
Ada kisah unik yang saya tak pernah lupa. Setiapkali rekaman dilakukan, saya selalu melihat seorang lelaki yang dari wajahnya saya tahu dia keturunan Tionghoa. Lelaki setengah baya ini selalu terlihat khusyuk mendengarkan ceramah Kyai Hasyim. Padahal, sehari bisa dilakukan tiga kali rekaman. 
 
Suatu hari, ketika saya agak terlambat datang ke lokasi rekaman, lelaki Tionghoa ini -- sebut saja Handoko – menyapa saya: ‘’Ini Mas Helmi ya? Mas mulai hari ini tinggal di hotel Bidakara saja, saya yang bayar. Biar dekat lokasi syuting. Tadi Abah hampir tidak mau rekaman karena nunggu Mas.’’
 
Inilah yang saya kagumi dari Abah Hasyim dan para kyai NU lainnya. Hampir di setiap rekaman, beberapa kyai entah dari mana selalu hadir menyaksikan rekaman itu, lengkap dengan sarung dan peci mereka. Abah Hasyim selalu minta kritik mereka usai rekaman. Tapi, setiapkali ditanya, tak satu pun dari kyai-kyai itu berani mengoreksi. Ini saya yakini sebagai bentuk takzim mereka kepada sesama kyai, apalagi Abah Hasyim waktu itu adalah calon wakil presiden. 
 
Karena saya dan kawan-kawan Gontor juga berdiri di antara para kyai itu, Abah Hasyim juga bertanya pada kami. Saat itu saya memberanikan diri memberi sedikit ‘’koreksi’’ karena rasa sayang saya pada almarhum supaya terlihat lebih sempurna di mata publik.
 
Beberapa kawan memberi saran pada saya sebaiknya saya tidak memberikan kritik itu. Kata mereka itu bukan tradisi NU. Saya terima saran mereka. Tapi, sungguh di luar dugaan kami semua, esoknya Abah Hasyim justru menanyakan kehadiran saya dulu sebelum syuting dimulai. Abah Hasyim justru siap dikritik dan minta dikritik demi kebaikan. Almarhum bukan tipe ‘’close minded’’ yang merasa paling benar dibanding orang lain. ‘’Makanya saya heran, Mas Helmi kok kemarin dilarang memberi kritik Abah. Abah itu orang besar, berwawasan luas, bukan tipe tak mau dikritik,’’ kata Handoko.
 
‘’Jangan heran Mas, saya mungkin lebih dulu kenal Abah Hasyim ketimbang Mas Helmi,’’ lanjut Handoko. Ia kemudian menyampaikan cerita yang membuat saya terduduk menyimaknya. Lelaki keturunan Tionghoa ini rupanya sejak muda sudah menggemari ceramah-ceramah Kyai Hasyim di Malang, Jawa Timur, dan selalu berburu ceramah mantan Ketua Umum PBNU ini di tempat-tempat yang bisa ia jangkau. 
 
Pesan kebaikan yang disampaikan Abah Hasyim, kata Handoko, tak ada bedanya dengan pesan kebaikan yang disampaikan tokoh agama yang dia anut. ‘’Ada satu hal yang sangat saya suka, saya tidak pernah dengar Abah menjelekkan agama lain, menghina Tuhan orang lain, dan tak suka mengecilkan suku lain. Abah cinta Indonesia.’’
 
Saat saya mampir ke showroom mobil mewah milik Handoko di Jakarta Selatan, di ruang kerjanya ada foto Kyai Hasyim Muzadi. Foto itu bukti cintanya yang tulus pada tokoh yang mencintai keindonesiaan ini. Karena itu wajar, orang semacam Handoko tak sungkan mengeluarkan dana untuk membantu kampanye Abah Hasyim.
 
Dalam sosilogi-politik Indonesia, keturunan Tionghoa selalu dipersepsikan sebagai orang yang memelihara pejabat agar mereka dapat kemudahan berbisnis ketika pejabat yang mereka dukung berkuasa. Tapi dalam kasus Handoko saya membantah. 
 
Dalam banyak obrolan berkali-kali dia katakan dia membantu dana kampanye bukan untuk minta kekuasaan, tapi hanya ingin orang baik memimpin Indonesia yang juga dia cintai. Handoko kenal Kyai Hasyim sejak muda sebagai ustaz kelas kampung di Malang dan tak pernah menyangka suatu ketika orang yang sudah dia anggap saudara ini bakal jadi calon wakil presiden!
 
Selain Handoko, ada lagi lelaki keturunan Tionghoa yang membantu dana kampanye di televisi. Dia sudah tua, jalan pun tertatih-tatih menggunakan tongkat keluar dari mobil mewahnya. 
 
Kata konsultan keuangannya, pengusaha kaya di Jawa Timur ini adalah sahabat Abah Hasyim sejak muda, yang selalu minta nasihat Abah setiapkali dia mau mengembangkan usahanya. Maklum, dia adalah keturunan Tionghoa, non-Muslim, sementara para pekerjanya adalah mayoritas Muslim dari kalangan Nahdliyyin. Semua nasihat Kyai Hasyim dia laksanakan demi keharmonisan hidup berbangsa.
 
Apakah kedua donator kampanye ini Muslim? Tidak!
 
Mengislamkan orang lain bukanlah kemampuan seorang Hasyim Muzadi, juga bukan kemampuan kita semua. Rasulullah SAW juga tidak bisa mengajak pamannya sendiri Abu Thalib masuk Islam karena hanya Allah yang mampu memilih umat-Nya masuk ke dalam barisan Islam. 
 
Karena tak mungkin semua umat manusia masuk Islam (Allah sendirilah yang menghendaki keberagaman), maka tugas seorang Hasyim Muzadi (juga tugas kita semua umat Islam) adalah menyampaikan keindahan dan keramahan Islam kepada siapa saja, termasuk kepada orang-orang di luar Islam. 
 
Lihatlah dampak yang dilakukan Abah Hasyim pada kedua pengusaha keturunan Tionghoa itu. Selebihnya kita serahkan pada Allah SWT …
Menampilkan Islam rahmah adalah dakwah Islamiyyah itu sendiri. Menampilkan bom, kekerasan, dan eksklusivisme justru menghancurkan Islam dari dalam. Saya bersyukur pernah bertemu dan berguru pada orang besar.
 
Selamat jalan Kyai Haji Hasyim Muzadi, kami yakin Abah tengah menemui Sang Kekasih
comments powered by Disqus