Danau Indah Itu Bernama Pikiran Positif

Sabtu, 06 May 2017   Tags: Helmi Hidayat, Danau Indah Itu, Pikiran Positif   Views: 196
Amay dan Yusuf adalah dua pasien yang tinggal di satu kamar di sebuah rumah sakit. Amay hampir sekarat, setiap hari hanya bisa telentang di ranjangnya. Sedang Yusuf lebih beruntung, masih bisa bangun bahkan berjalan-jalan di ruang inap.
 


Oleh: Helmi Hidayat

Ada kejadian menarik dari dua orang yang menjadi sahabat gara-gara sakit ini. Setiap hari, dari pagi sampai sore, Yusuf selalu berdiri di pinggir jendela kaca, lalu menceritakan apa saja yang terjadi di luar sana. Ada danau yang indah, sampan terapung, angsa menari, juga gadis muda nyaris telanjang yang selalu berenang di danau itu. ''Wah, sore ini Matahari seperti ditelan gunung,'' tutur Yusuf.
 
Selama Yusuf bercerita, mulut Amay menganga, matanya menyala-nyala. Dia sangat menikmati semua cerita Yusuf dan imajinasinya menari-nari tentang danau di luar jendela. Ingin rasanya dia cepat sembuh lalu menghambur ke sana. Keindahan itu tak boleh berhenti di ranjang sialan ini, gumamnya.
 
Demikianlah kejadian serupa berulang setiap hari selama dua minggu mereka tinggal di kamar itu hingga akhirnya, tadi pagi, Yusuf wafat lebih dulu. Amay tentu saja terpukul. Tak ada lagi yang bercerita tentang awan menari atau gadis berenang di danau kepadanya.
 
Akhirnya, untuk memenuhi hasratnya tentang danau yang sangat indah itu, Amay minta dipindahkan ke dekat jendela. Ia lalu berusaha sekuat tenaga melihat ke luar jendela, tapi selalu saja tembok butut dan kusam yang dilihatnya. ''Suster, mana danau di luar jendela? Mana gadis telanjang itu?'' tanya Amay dengan nada tinggi.
 
Dengan suara perlahan dengan nada merayu, suster menjawab bahwa danau itu sebenarnya tak pernah ada. Bahkan sejak ia bekerja di rumah sakit itu, tembok jelek dan berlumut di luar jendela itu sudah ada di sana. Amay kaget luar biasa. Tapi kemudian ia tersenyum, tertawa, lalu menangis tersedu-sedu untuk kemudian khusyuk berdoa.
 
Apa yang membuat Amay menangis lalu berdoa?
 
Rupanya suster juga bercerita bahwa Yusuf yang tadi pagi wafat sebenarnya buta. Ia tak pernah melihat apa-apa. Tapi Amay segera berpikiran positif. Dia yakin kawannya itu selama ini bukan sedang membohonginya, tapi justru ingin membahagiakannya dengan cerita-cerita indah di sisa usia. Inilah yang membuat Amay menangis terharu lalu berdoa untuk kawannya.
 
Duh, indahnya berpikiran positif. Dengan pikiran itu Amay tetap bahagia di tengah sakit yang menderanya.
 
Bayangkan jika ia berpikiran negatif. Sudah sakit fisik, Amay sakit hati pula. Begitu tahu bahwa danau itu sebenarnya tak pernah ada, Yusuf hanyalah pasien buta, dalam sakit hati yang tiada terkira Amay niscaya berteriak-teriak: ''Dasar orang buta gila, tukang bohong, munafik, masuk neraka. Tahu begini, saya larang keluarga saya salat jenazah atasnya!''
 
Tuhan ... jika wafat nanti, biarkan hamba berenang di danau energi positif karena sejak di dunia hamba selalu ingin menyentuh airnya untuk kemudian tenggelam di dalamnya.
comments powered by Disqus