Aku, Keluargaku, dan Keturunan Tionghoa Katolik Itu

Jumat, 28 April 2017   Tags: Aku, Keluargaku, dan Keturunan Tionghoa Katolik Itu   Views: 280



Oleh: Helmi Hidayat

Keluarga saya relatif agamis. Ibu saya dikenal sebagai ustazah yang meristis majlis taklim di Jakarta sejak awal 1980-an. Kini ada lebih dari 30 majlis taklim di Jakarta dengan nama ''Nurul Hidayah'' ia pimpin.
 
Kakak perempuan tertua saya pernah menjabat pengurus teras organisasi perempuan PBNU. Ia juga aktif di MUI Jakarta. Kakak nomor dua saya menyekolahkan dua anaknya ke Gontor. Adik perempuan saya lulusan IAIN Jakarta, sesekali menggantikan ibu saya mengajar. Adik nomor dua saya, Heri Sudrajat, adalah lulusan Gontor tahun 1987. Nah, adik lelaki saya yang paling kecil, Lukman Hakim, cukup unik. Ketiga anak perempuannya disekolahkan ke Pesantren Zaitun yang terkenal itu sejak kelas 1 Sekolah Dasar!
 
Kami lama tinggal di Kebagusan, Jakarta Selatan. Salah satu tetangga kami adalah keturunan Tionghoa beragama Katolik, dengan empat ekor anjing yang setiap subuh pasti menggonggong. Kami kesal? Tidak. Kami berbaik sangka, anjing-anjing ciptaan Allah itu menjawab panggilan azan di masjid. Bukankah satu-satunya binatang yang diangkat derajatnya mati bersama Ashabul Kahfi justru adalah anjing?
 
Selain lima saudara kandung saya itu, ada satu ''saudara angkat'' yang belum saya sebut. Dia adalah Iyan, tetangga kami keturunan Tionghoa Katolik tadi. Kami sebut saudara angkat karena nyaris setiap hari dia bermain di rumah kami -- merokok, ngopi, main catur, sampai tidur-tiduran di lantai. Dia sangat akrab dan sopan dengan semua anggota keluarga kami.
 
Namun, bertahun-tahun dia menjadi bagian dari keluarga kami, tidak pernah satu kali pun satu di antara kami membicarakan agama yang dia anut dan dari ras apa dia dilahirkan. Demikian dekat Iyan dengan kami, sampai kami lupa bahwa dia adalah keturunan Tionghoa dan beragama Katolik pula!
 
Demikian pula sebaliknya Iyan. Demikian dekatnya dia bersahabat dengan adik saya, Heri Sudrajat, sampai-sampai dia berkata kepada keluarganya bahwa dia tak mau melangsungkan pernikahan di gereja kecuali adik saya itu mau dan diperbolehkan oleh keluarga Iyan menjadi saksi pernikahannya. Akhirnya, demi sebuah pernikahan yang suci, bukan perzinaan yang dibenci Allah, adik saya memakai jas, dasi, lalu mengiringi pernikahan Iyan di sebuah gereja di Bintaro.
 
Sedekat apakah adik saya dengan Iyan? Saat keduanya masih membujang, saya lihat hampir setiap hari kedua hamba Allah ini selalu bersama. Kadang mereka dua atau tiga hari keluar kota untuk bisnis kecil-kecilan. Suatu ketika, cerita Heri kepada saya, ketika mereka ke Bandung, tiba-tiba Iyan menghentikan mobil yang ia setir di halaman masjid yang tengah mengumandangkan azan.
 
''Her, shalat luh,'' kata Iyan tiba-tiba.
 
''Eh, gue shalat entar aja,'' jawab adik saya. ''Jalan terus. Dalam Islam shalat boleh dijamak kalau kita lagi musafir.''
 
''Ah jangan pura-pura luh, anak ustazah malas shalat, gue bilangin nyokap elu entar!'' kata Iyan sok tahu.
 
Daripada ribut, adik saya ke masjid lalu shalat jamak taqdim. Iyan menunggu di mobil. Nah, ketika mereka melanjutkan perjalanan dan Iyan mendengar azan Ashar, lagi-lagi dia dengan cepat belok ke masjid dan menyuruh adik saya shalat.
 
''Gue udah shalat Ashar tadi di masjid itu, lu gak percaya?'' sergah adik saya!
 
''Alaaaaah, jangan pura-pura lu ....,'' kata Iyan ngotot dan lagi-lagi sok tahu. ''Biar Katolik, gue tahu Islam nyuruh umatnya shalat lima waktu. Shalat sana, gue tinggal kabur nih .... ''
 
Dengan langkah gontai, adik saya lalu ke masjid. Duuuh, tidak mungkin dia menjelaskan fiqih empat mazhab kepada Iyan tentang shalat.
Beberapa tahun setelah Iyan menikah dan pindah ke Bandung, kami kehilangan saudara angkat yang baik hati dan penuh toleransi ini. 
 
Sampai pada akhirnya Ramadan tahun lalu, ketika kami sekeluarga buka puasa bersama, tiba-tiba Heri membacakan SMS dari Iyan. Isinya begini:
''Her, gue, bini gue, keluarga gue, sudah tiga hari i'tikaf di masjid Bandung. Kayaknya gue pengen tiap hari adalah Ramadan. Terima kasih sudah mengajarkan Islam kepada gue lewat semua kebaikan elo dan keluarga elo. Gue bukan ngaji dari ceramah di masjid, tapi dari sikap-sikap elo dan keluarga elo.''
 
''Lho, Iyan sudah masuk Islam? Kapan?'' kata saya spontan pada adik saya.
 
''Sudah kak, setahun lalu,'' jawab Heri perlahan.

''Diam-diam dia banyak belajar dari keluarga kita, dari sikap kita. Ibu kita ustazah, tapi Iyan respek karena tidak pernah sekali pun ibu kita membahas apalagi mempersoalkan agama dia.''
 
Kami terdiam. Saya pura-pura tidak melihat ada airmata menggenang di pelupuk mata adik saya.
 
Selamat berserah diri, Iyan. Dari dulu dan sampai ajal menjemput nanti, kamu dan keluarga kamu keturunan Tionghoa itu adalah saudara kami karena demikianlah Al-Quran mengajarkan kami. 
comments powered by Disqus