Alquran Sebagai Makhluk dan Politisasi Masjid

Sabtu, 06 May 2017   Tags: Helmi Hidayat, Alquran Sebagai Makhluk, Politisasi Masjid   Views: 114
Anda serius ingin menjadikan masjid-masjid sebagai pusat kampanye dan basis berpolitik? Baca baik-baik sejarah Dunia Islam yang pernah menjadikan masjid sebagai ladang kampanye. Jangan kaget jika dampaknya demikian dahsyat.
 


Oleh: Helmi Hidayat

Mari kita mulai diskusi ini dengan terlebih dulu mempelajari teologi Islam. Umat Islam percaya bahwa Allah SWT adalah Pencipta segala sesuatu, baik di alam nyata maupun di alam gaib. Jika ada yang percaya gunung diciptakan dewa ini dan langit diciptakan dewa itu, ia pasti bukan Muslim. Jika ada Muslim percaya malaikat dan jin bukan diciptakan Allah, ia bisa dituduh musyrik karena meyakini keberadaan pencipta lain selain Allah. Pencipta dalam bahasa Arab disebut Khalik, segala sesuatu yang diciptakan Allah disebut makhluk.
 
Karena segala sesuatu di jagad raya adalah makhluk, maka apa yang Anda pikirkan saat ini pun makhluk, semua agama adalah makhluk, Al-Quran juga makhluk. Jika Al-Quran bukan makhluk, berarti ia tercipta dengan sendirinya. Jika al-Quran tercipta dengan sendirinya, berarti ada dua yang kekal sejak alam azali hingga kiamat nanti: Allah dan Al-Quran itu sendiri. Jika seseorang percaya ada dua yang maha kekal, berarti dia musyrik. Jika dia musyrik, orang ini tak boleh jadi imam salat, tak boleh jadi saksi nikah, tidak boleh disumpah, tak boleh jadi hakim, bahkan harus bercerai dari istrinya yang Muslimah.
 
Dalam sejarah Islam, tokoh besar yang percaya ajaran seperti itu adalah Al-Ma'mun bin Ar-Rasyid, khalifah Bani Abbasiyah yang berkuasa antara 813 - 833 M. Demikian yakin khalifah ini dengan ajaran itu, sampai-sampai dia memerintahkan Gubernur Irak, Ishaq bin Ibrahim, agar melakukan screening atas semua hakim dan saksi di pengadilan. Jika mereka tak percaya Al-Quran adalah makhluk, para hakim itu dipecat, para saksi ditolak. Semua ahli hadis juga dipanggil ke istana lalu Al-Ma'mun sendiri yang menguji mereka.
 
Supaya ajaran ini sampai pada semua rakyat di bawah rezim Abbasiyah, Al-Ma'mun lalu menggunakan sekolah, perguruan tinggi, juga masjid-masjid sebagai sarana kampanye dan sosialisasi pikirannya. Politisasi masjid dalam Islam sesungguhnya bukan baru kemarin terjadi, tapi sudah berlangsung sistematis sejak abad kedua sejarah Islam.
 
Tentu saja tidak semua ulama di zaman itu percaya Al-Quran adalah makhluk. Salah satunya adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, terkenal sebagai Imam Ahmad bin Hanbal. Kata ahli hadis ini, Al-Quran bukan makhluk melainkan kalam Allah. Allah tidak menciptakan kalam-Nya sendiri karena kalam atau firman itu sudah inheren dalam Diri Allah.
 
Tahu, apa yang terjadi setelah Imam Ahmad ngotot mengatakan Al-Quran bukan makhluk? Ia dibelenggu, dicambuk, dan dipenjara. Bahkan setelah Al-Ma'mun wafat, dua khalifah setelahnya, Al-Mu’thasim (219 - 227 H) dan Al-Watsiq (227 - 232 H), tetap memenjara Imam Ahmad bin Hambal. Meski akhirnya Imam Ahmad dibebaskan di era Al-Watsiq, ia tetap dilarang mengajar dan bersosialisasi dengan masyarakat secara terbuka dan diawasi.
 
Nah, siapa yang benar, Al-Ma'mun atau Imam Ahmad? Keduanya benar, keduanya salah, tergantung di sisi siapa Anda berpihak. Jika Anda berpendapat Al-Quran adalah makhluk, Al-Ma'mun benar, Imam Ahmad salah. 
 
Jika Anda berpendapat Al-Quran kalam Allah, Imam Ahmad benar, Al-Ma'mun salah. Al-Ma'mun tak mau rakyatnya terjebak dalam kemusyrikan sesuai tafsirnya sendiri. Sedang Imam Ahmad juga tak mau Al-Quran disetarakan dengan makhluk lain. Menurut tafsir dia, itu penistaan agama namanya!
 
Kendati Al-Ma'mun dan Imam Ahmad benar semua, ada di antara mereka yang paling benar, yakni Allah SWT. Dialah pemilik firman-firman dalam buku suci Al-Quran. Dialah Zat Maha Berilmu yang tahu siapa di antara kedua tokoh itu yang paling benar. Dialah Tuhan yang paling tahu maksud di balik setiap ayat-ayat-Nya.
 
Tapi, jika Al-Ma'mun dan Imam Ahmad salah semua, ada di antara mereka yang paling salah, yakni Al-Ma'mun. Khalifah yang satu ini telah menggunakan kekuasaan serta semua perangkat rezimnya untuk memaksakan pikirannya sendiri seraya menindas pikiran orang. Dia sudah menggunakan sekolah dan masjid-masjid sebagai sarana kampanye ideologi dan tafsir sepihak atas ajaran Al-Quran kepada semua orang.
 
Al-Ma'mun lupa, hasil pikiran alias tafsir hanyalah makhluk, padahal makhluk tak boleh dikultuskan, disucikan, apalagi karena kultus itu dia memenjara orang yang berseberangan dengannya!
 
Bayangkan jika Indonesia suatu ketika nanti dipimpin oleh seorang otoriter bertangan besi yang menafsirkan demokrasi bertentangan dengan ajaran Islam, lalu dia bunuh demokrasi dan mendirikan sistem kerajaan di negeri ini, dia kampanyekan pikirannya itu di sekolah-sekolah dan masjid-masjid, dia paksa semua khatib menyampaikan bahwa demokrasi haram bertentangan dengan Islam, lalu seperti Al-Ma'mun dia berangus semua ulama dan siapa saja yang menentang pikirannya. 
 
Masyarakat setuju karena siapa berani menentang khutbah yang disampaikan atas nama Allah? Sekolah-sekolah dan masjid-masjid kemudian menjadi efektif dalam ..... membunuh demokrasi.
 
Masih setuju dan bangga menjadikan masjid sebagai sarana kampanye dan menjadikannya objek politisasi? Anda serius?
comments powered by Disqus