Penyakit THT dan Pengobatan Kedokteran Islam

Senin, 03 December 2012   Tags: penyakit tht, pengobatan, kedokteran islam   Views: 1213
rspondokindah.co.id

Meski di era kekhalifahan belum ada peralatan yang bisa digunakan untuk mendiagnosis penyakit, para dokter Muslim telah mampu melakukannya. Bermodalkan observasi yang baik dan keahlian klinis, para dokter itu mampu mendiagnosis kebanyakan penyakit telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).
 
Ar Razi, misalnya, memiliki cara sendiri untuk mendiagnosis dan mengobati pasien penyakit THT. Dalam kitabnya yang berjudul Al Hawi, dokter termasyhur di awal abad ke-10 itu memeriksa pasiennya di bawah cahaya matahari langsung. Dia juga menggunakan mikroskop cermin. Untuk memeriksa telinga dan hidung, Ar Razi menggunakan spekula. Sedangkan, untuk memeriksa mulut dan tenggorokan, ia menggunakan penekan lidah.
 
Dokter termasyhur itu juga menjelaskan penyebab penyakit yang sering terjadi di bagian luar dan tengah telinga. Tak cuma itu, Ar Razi pun memerinci satu per satu jenis penyakit di bagian telinga. Selain itu, dia juga menjelaskan penyakit lainnya yang biasa terjadi pada hidung, mulut, kerongkongan, dan tenggorokan. Ar Razi pun tercatat sebagai dokter pertama yang menjelaskan rhinorrheaatau penyakit ingusan berikut penyebabnya.
 
‘’Dialah dokter pertama yang menggunakan alkohol sebagai antiseptik,’‘ papar Prof Mostafa Shehata. Hampir sa ma dengan Ar Razi, Ibnu Sina juga mendiagnosis penyakit THT dengan menggunakan mikroskop cermin, spekula khusus, serta melakukan diagnosis dengan jari untuk membedakan beragam bengkak. Dengan kemampuannya yang tinggi dalam meraba, Ibnu Sina bisa mendiagnosis penyakit mu lut, tenggorokan, dan kerongkongan dengan sangat akurat.
 
Ibnu Sina pun dapat membedakan antara tumor jinak dan ganas yang me nular. Dia juga menguraikan secara de tail informasi mengenai telinga, hidung, dan gejala ketulian, vertigo, ingusan, telinga berdengung ( tinnitus), gangguan pita suara ( hoarseness), sakit menelan ( dysphagia), dan gangguan pada pernapasan ( stidor).
 
‘’Ibnu Sina menjelaskan secara pe rinci satu per satu tentang penyebab ke tulian dan telinga berdengung,’‘ imbuh Prof Mostafa. Sedikitnya, Ibnu Sina menjelaskan lima jenis gangguan yang menyebabkan telinga berdengung. Ia juga menemukan beberapa peralatan baru untuk menguji dan mendiagnosis penyakit.
 
Salah satunya dengan menemukan saluran bengkok yang terbuat dari perak atau emas untuk menyelamatkan pasien yang tercekik. Menurut Mostafa, Ibnu Sina merupakan dokter yang paling berjasa dalam menemukan endotracheal intubation sebuah prosedur medis dengan menempatkan sebuah saluran (pipa) kepada trakea. Proses ini dilakukan untuk membuka saluran udara ketika memberi oksigen, pengobatan, atau pembiusan. Namun, sejarawan kedokteran Barat tak mengakui jasa Ibnu Sina dalam endotrache al intubation.
 
Mereka malah menyata kan bahwa Mac Ewan dan Einsenme nger yang baru hidup pada tahun 1847 sebagai penemu endotracheal intubation. Dokter Muslim lainnya yang mem beri kontribusi dalam pengobatan THT adalah Ibnu Al Baladi (971 M). Ia ba nyak membahas diagnosis dan penyembuhan penyakit THT. Hal yang sama juga dilakukan dokter terkemuka di Seville pada abad ke-12 M, Ibnu Zohr. Dia juga menyumbangkan pemikiran dan hasil penelitiannya mengenai diagnosis dan penanganan penyakit THT.
 
Sementara itu, Al Zahrawi Bapak Ilmu Bedah Modernbanyak membahas operasi telinga, hidung, dan tenggorokan secara perinci dalam kitab Al Tassreef. Apa yang ditemukan dan di kembangkan oleh para dokter Muslim di era kekhalifahan itu diadopsi dan diserap dokter di Eropa. Berbekal pengetahuan yang ditransfer dari peradaban Muslim itulah Eropa mengalami Renaisans. 
 
Inilah salah satu pengakuan terhadap kontribusi peradaban Islam dalam dunia kedokteran. ‘’Kedokteran itu tak ada sampai Hippocrates menciptakannya, kedokteran mati sampai Galen menghidupkannya, kedokteran tercerai-berai sampai Ar Razi menyatu kannya, dan kedokteran tak lengkap hingga Ibnu Sina menyempurnakannya,’‘ tutur seorang dokter Eropa bernama De Boer.
 



Pengobatan Penyakit THT Warisan Kedokteran Muslim
Sumbangsih peradaban Islam bagi dunia kedokteran sungguh amat luar biasa. Sederet dokter Muslim di era keemasan ternyata telah berjasa besar dalam pengobatan penyakit telinga, hidung, dan tenggorokan (THT). Berbekal pengetahuan dan keahlian yang sangat tinggi, para dokter Muslim telah berhasil mengkaji anatomi dan fisiologi THT, mengidentifikasi sederet penyakit THT, serta cara pengobatannya, termasuk operasi.
 
Dalam dunia kedokteran modern, penyakit THT secara khusus ditangani dalam bidang otorhinolaryngology. Berasal dari kata oto (telinga), rhino (hidung), dan laryngo (tenggorokan). Menurut Neil Weir, otorhinolaryngology merupakan bidang kedokteran yang secara khusus dikembangkan pada awal abad ke-20 M dengan menggabungkan dua departemen berbeda, yakni otology dan laryngology.
 
Sejatinya, peradaban Barat memang jauh tertinggal dari dunia Islam dalam menangani penyakit THT. Adalah fakta yang tak terbantahkan, pengobatan penyakit THT di negara-negara Eropa baru dikembangkan pada 1880 M. Sehingga, dunia kedokteran Barat sudah seharusnya tak mengklaim bahwa otorhinolaryngology berasal dari peradaban masyarakat Eropa.
 
‘’Kita tak akan pernah mengklaim memiliki sebuah ilmu secara penuh sampai kita tahu sejarah perkembangannya,’‘ cetus sejarawan kedokteran, Charles Cumston, dalam bukunya yang berjudul An Introduction to the History of Medicine. Jika melihat jejak dan sejarah perkembangannya, tampaknya umat Islam memiliki hak untuk mengklaim bahwa para dokter Muslim merupakan perintis dari lahirnya bidang otorhinolaryngology di dunia kedokteran modern.
 
Guru Besar Fakultas Kedokteran Alex andria, Mesir, Mostafa Shehata, secara lugas memaparkan kontribusi para dokter Muslim dalam pengobatan THT. Menurut dia, sumbangsih peradab an Islam dalam pengobatan penyaki t THT telah tertulis dalam sejumlah buku ke dok teran yang disusun para dokter Mus lim. ‘’Kitab-kitab itu telah menjadi rujukan dasar dunia kedokteran selama berabad-abad lamanya,’‘ papar Mostafa.
 
Perawatan dan pengobatan penyakit THT mendapat perhatian serius para dokter Muslim diera kekhalifahan. Apalagi, dalam Alquran terdapat 16 ayat yang menekankan betapa pentingnya fungsi telinga. Selain itu, Al - quran juga mencantumkan pembahasan hidung dan tenggorokan.
 
Dalam Surat Al Ahzab ayat 10, Allah SWT berfirman, ‘’(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.’‘ Menurut Prof Mostafa, Rasulullah SAW juga memerintahkan umatnya untuk memelihara kesehatan telinga, hidung, dan tenggorokan.
 
Para dokter Muslim mulai melakukan penelitian dan pengkajian seputar pengobatan penyakit THT pada era kekuasaan Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah. Di zaman keemasan itu, tak kurang dari 1.000 dokter Muslim terkemuka tersebar di kota-kota besar Muslim, seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, Alexandria, Kairouan, Cordoba, Seville, serta Valencia. ‘’Di masa itu, pengobatan penyakit THT ditangani oleh dokter umum, dokter spesialis bedah, dan dokter spesialis anak-anak.’‘
 
Upaya pertama yang dilakukan para dokter Muslim di era keemasan adalah mengkaji dan meneliti anatomi dan fisiologi telinga, hidung, dan tenggorokan. Hal itu dilakukan lantaran informasi tentang anatomi dan fisiologi THT sangat terbatas. Sebelum peradaban Islam berkembang pesat, secara ilmiah juga belum diketahui bagaimana proses mendengar terjadi.
 
Penelitian tentang anatomi dan fisiologi THT dilakukan sederet dokter Muslim dari abad ke abad, seperti Ibn Zakariya Ar Razi (850 M-923 M), Ibnu Sina (980 M-1036 M), Ali Ibnu Abbas (994 M), Abdul Latif Al Baghdadi (1161 M-1242 M), Ibnu Al Baladi (971 M), Abdul Malik Ibnu Zohr (1092 M- 1162 M), Al Zahrawi (936 M-1013 M), dan Ibnu Al Nafis (1210 M-1288 M). Secara detail, mereka menjelaskan anatomi dan fisiologi telinga, hidung, dan tenggorokan.
 
Hasil kajian para dokter Muslim tentang anatomi dan fisiologi THT itu terekam dalam kitab dan risalah kedoteran Islam. Ar Razi menuangkan buah pikirnya tentang anatomi dan fisiologi THT dalam kitab Al Hawy. Sedangkan, Ibnu Sina memaparkannya dalam Canon of Medicine kitab kedokteran yang legendaris. Ali Ibnu Abbas mencatatnya dalam Al Kitab El Malaky.
 
Sementara itu, Al Baghdadi menulis kan hasil kajiannya dalam The Com pendium in Medicine dan Ibnu Al Baladi dalam The Care of Pregnant Women, Infants, and Children. Ibnu Zohr menuangkan penelitiannya tentang anatomi dan fisiologi THT dalam kitab Al Tayseer. Dokter bedah terkemuka dari Cordoba, Al Zahrawi menuliskannya dalam kitab Al Tassrif. Bapak Fisiologi Ibnu Al Nafis menuliskan hasil kajiannya dalam kitab Al Shamel Fi Sinaat Al Tibb.
 
Menurut Ibnu Sina, daun telinga memiliki bentuk seperti corong yang berfungsi untuk mengumpulkan gelombang suara. Saluran pendengaran eksternal, papar Ibnu Sina, adalah saluran sempit yang membengkok berfungsi untuk melindungi genderang telinga dan menjaga telinga luar agar tetap hangat. Ibnu Sina juga menyatakan, genderang telinga adalah lapisan tipis yang merespons getaran suara.
 
Tiga dokter Muslim terkemuka, Ali Ibnu Abbas, Al Baghdadi dan Ibnu Al Nafis juga tercatat sebagai perintis yang meluruskan kesalahpahaman tentang keyakinan adanya satu syaraf dari telinga dan wajah. Ketiganya menyatakan bahwa ada dua syaraf terpisah yang bertautan dengan tengkorak di antara wajah dan telinga. Selain itu, sejarah kedokteran juga mencatat Ibnu Sina sebagai dokter pertama yang menjelaskan bahwa pendengaran sebagai penerimaan gelombang suara di genderang telinga.
 
Ibnu Sina, dalam Canon of Medicine, menjelaskan secara detail tentang tenggorokan dan kerongkongan. Terkait dengan tenggorokan, papar Prof Mustafa, Ibnu Sina menjelaskan tulang rawan, tulang ikat, dan otot kecil pangkal tenggorokan serta mengidentifikasi perannya dalam menampilkan beragam fungsi tenggorokan. Penjelasan ilmiah tentang tenggorokan juga diungkapkan Ibnu Sidah, seorang saintis dan ahli bahasa kenamaan di abad ke-10 M.
 
Dalam kitabnya yang termasyhur, Al Mokhassus yang membahas berbicara dan bernyanyi, Ibnu Sidah menjelas kan karakter, tingkat, dan jenis suara manusia. Ibnu Sidah menyumbangkan pemikiran baru tentang intonasi suara, ritme, senandung, pengulangan, dan resonansi. Ia juga telah mampu membedakan antara bunyi suara yang senang, parau, dan melankolis. Dari hasil kajian anatomi dan fisiologi itulah, para dokter Muslim mampu mengidentifikasi berbagai penyakit THT. 
comments powered by Disqus