Kapolri: Gus Mus Ulama Penyejuk Bangsa

Selasa, 06 June 2017   Tags: Kapolri, Tito Karnavian, Gus Mus, Ulama, Penyejuk Bangsa   Views: 146
Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menyampaikan sosok Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) merupakan sosok ulama yang menyejukkan bagi bangsa ini.
 

warkommbahlalar.com

"Demikian halnya, Kiai Maimun Zubair juga merupakan sosok ulama yang menyejukkan bangsa ini di tengah situasi bangsa yang sedang menerima ujian lagi," ujarnya saat menyampaikan sambutan pada acara Safari Ramadhan di kediaman Gus Mus yang juga pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Kabupaten Rembang, Selasa.
 
Menurut dia, demokrasi memang positif, karena demokrasi diharapkan akan membuat sistem pemerintahan yang kuat. "Karena dengan kekuasaan di tangan rakyat, bukan dengan sistem otoriter, bukan dengan sistem oligarki yang dikuasai sekelompok orang, melainkan pemerintahan yang ada di tangan rakyat," ujarnya.
 
Oleh karena itu, diharapkan dengan sistem pemerintahan sekarang akan ada partisipasi publik dan rakyat yang lebih kuat bisa membawa bangsa ini lebih maju.
 
"Diharapkan, memang ada sistem keseimbangan antara pemerintah dengan rakyat, sehingga sistem pemerintahan bangsa ini akan kuat," ujarnya. Setidaknya, kata dia, pembangunan akan berjalan dan akhirnya meningkatkan kesejahteraan rakyat.
 
Ia mengakui sistem pemerintahan tersebut bukan tanpa risiko, mengingat demokrasi yang dibuka sejak 1998 mulai mengarah yang lebih liberal dan membuka ruang untuk kebebasan berserikat, berkumpul, berbicara, dan berekspresi.
 
Hal tersebut, kata dia, juga memberikan dampak negatif, di antaranya makin derasnya kebebasan, termasuk untuk menyampaikan ideologi tertentu yang dimungkinkan tidak tepat bagi bangasa ini.
 
Misal, kata dia, adanya ideologi yang membawa atau membolehkan adanya tindakan kekerasan untuk mencapai tujuan, kemudian saat ini juga bisa dilihat mulai mengentalnya primordialisme.
 
Kasus primodialisme, dicontohkan dengan konflik yang terjadi di Lampung terkait dengan tanah yang melibatkan masyarakat lokal dengan pendatang yang ikut program transmigrasi.
 
"Primordialisme keagamaan juga mulai terlihat, mulai menyentuh hal-hal sisi sensitif dari basis keagamaan tertentu. Bahkan, tidak hanya antaragama, melainkan juga intra agama di dalam satu agama," ujarnya.
 
Ia menganggap, saat ini mulai ada pembedaan-pembedaan, termasuk soal keturunan. Padahal, kata dia, bapak bangsa Indonesia atau "The Founding Fathers" pada 1928 saat peringatan Sumpah Pemuda yang diucapkan hanya tiga, yakni satu tanah air, satu bahasa, dan satu bangsa tanpa ada embel-embel yang lain. "Mari perbedaan ditepikan, sedangkan satu kesamaan diutamakan demi kepentingan bersama yakni bangsa," ujarnya.
 
Sementara itu, Gus Mus dalam sambutannya menyatakan terima kasihnya kepada Kapolri yang bersedia berkunjung ke Rembang.
 
Pada kesempatan tersebut, Gus Mus juga mendoakan Kapolri Tito bersama jajarannya sebagai pengayom masyarakat semoga diberi kekuatan lahir dan batin, serta kesabaran dalam menjaga rumah bersama, yakni Indonesia. "Semoga tetap menjadi pengayom dan pelayan masyarakat Indonesia," ujarnya. 
comments powered by Disqus