Diet dan Makanan, Pengobatan di Era Peradaban Islam

Kamis, 29 November 2012   Tags: diet, makanan, pengobatan, peradaban islam   Views: 812


Mengatur pola makan merupakan hal yang sangat penting dalam ilmu pengobatan.
''Setiap penyakit ada obatnya,'' begitu bunyi salah satu hadis Rasulullah SAW.

Para dokter dan  ilmuwan Muslim di era keemasan telah berupaya mencari dan menemukan beragam bentuk pengobatan. Yang menarik, dokter-dokter Muslim di zaman kejayaan peradaban Islam mampu menjadikan makanan sebagai obat.
 
Menurut Prof Nil Sari dalam tulisannya bertajuk Food as Medicine in Islamic Civilization, dokter Muslim seperti Ibnu Sina (980-1037 M) dan Ibnu al-Baitar telah berhasil menjadikan makanan sebagai obat. Avicena – begitu masyarakat Barat biasa menyebutnya --  pada abad ke-11 M sudah menulis manuskrip tentang diet dan makanan sebagai obat.
 
Sang dokter memasukan resep makanan yang berkhasiat sebagai obat itu  dalam ilmu kedpkteran. "Dalam salah satu risalahnya, Ibnu isna menetapkan enam aturan hidup sehat, salh satunya menyatakan bahwa makanan berfungsi obat , melalui diet seimbang," ungkap Prof Nil Sari,  keepala Departemen Sejarah dan Etika Pengobatan dari Universitas Istanbul, Turki.
 
Para dokter Muslim di era keemasan telah menerapkan diet kepada para pasiennya. Makanan telah menjadi bagian terpenting dalam pengobatan, bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. "Mengatur pola makan merupakan hal yang sangat penting dalam ilmu  pengobatan,"  papar Prof Nil Sari.
 
Ilmuwan dan dokter Muslim al-Razi juga menekankan pentingnya penyembuhan penyakit melalui pola makan.  "Jika kamu dapat menyembuhkan seseorang dengan diet (mengatur pola makan), maka jangan menyarankan pengobatan," ujar Prof Nil Sari mengutip pernyataan al-Razi.
 


Pemikiran dan gagasan dari para dokter Muslim terdahulu mengenai fungsi makanan sebagai obat telah diterapkan masyarakat Muslim di era kekuasaan Kekhalifahan Usmani Turki. Menurut Prof Nil Sari,  prinsip kesehatan dan nutrisi seimbang dalam pengobatan  Turki Usmani didasarkan pada  teori "unsur" dan "humours". 
 
Prof Nil Sari mengungkapkan, tubuh manusia memiliki empat unsur atau sifat, yakni; panas, dingin, basah, dan kering. Selain itu, dalam tubuh manusia juga terdapati empat zat cair atau humours, yakni  darah, dahak/lendir, cairan empedu kuning dan cairan empedu hitam.
 
Berdasarkan teori unsur dan humoural yang ada dalam tubuh manusia, makanan diklasifikan dalam empat jenis. Menurut Prof Nil Sari, makanan dan minuman dapat mempengaruhi keseimbangan humoural.

"Makanan dan minuman secara alami membangkitkan darah. Karena penyakit juga terdiri dari panas, dingin, kering dan basah, penyakit bisa dirawat dengan makanan atau pengobatan," ujarnya.
 
Makanan dan minuman yang berpengaruh dalam keseimbangan humoral juga diklasifikasikan berdasarkan teori elemen seperti panas, dingin, kering, serta basah. Menurut Prof Nil Sari, penyakit pun terdiri dari empat jenis, yakni panas, dingin, kering dan basah. ''Setiap penyakit ditangani dengan makanan dan obat yang memiliki kualitas yang berlawanan,'' paparnya.
 
Menurut Prof Nil Sari, makanan dingin bisa membentuk dahak, contohnya, ketimun, labu, serta selada. Makanan dingin menyebabkan kelemahan. Makanan panas, lanjut dia, secara alami membentuk cairan empedu kuning. Makanan panas adalah makanan yang mengandung rempah-rempah dan bumbu, seperti  jahe, lada, ketumbar kering, kayu manis, bawang serta bawang putih.
 
''Sedangkan makanan kering akan membentuk empedu hitam, itu karena sifatnya melankolis,'' paparnya.  Makanan jenis ini, kata dia, bisa membuat  seseorang yang kehilangan nafsu makan dan sembelit.  Makanan yang termasuk jenis itu antara lain; padi, kacang-kacangan dan daging kering. 
 
Jenis makanan lainnya adalah makanan basah. Makanan jenis ini memiliki ciri tak terlalu berasa asin, manis, asam atau pahit. Makanan ini dapat mengurangi efek. Mie dan bayam yang dimasak dengan nasi dan daging merupakan contoh makanan basah.
 


Menurut Prof Nil Sari, makanan juga diklasifikasikan berdasarkan pencernaan, yakni makanan lembut dan makanan Makanan lembut bisa membantu mengusir residu dalam makanan. Mengkonsumsi makanan lembut berfungsi untuk memanaskan darah serta memproduksi cairan empedu kuning.
 
Makanan seperti ini, lebih banyak terkandung dalam sayuran (terutama lobak dan sawi), kaldu daging, kuning telur, hati, daging domba dan kacang dan sup buncis, burung merpati muda, burung pipit, acarn bawang, bawang putih, acar lobak dengan cuka, acar gula bit dengan sawi.
 
Prof Nil Sari menambahkan, makanan seperti roti gandum murni, buah yang masak di pohon, serta  buah ara matang bisa memberikan kekuatan penuh.  Prof Nil juga memaparkan sayuran dan buahan merupakan makanan yang menyembuhkan.

Contohnya, buah ara, anggur yang masak penuh dan biji merupakan makanan yang menyembuhkan dalam masalah ilmiah dan bisa dimakan dengan hemat. 
comments powered by Disqus