Sejarah Islam di Thailand (2) -- Minoritas Muslim Thailand Selatan

Sabtu, 18 August 2012   Tags: sejarah, islam, thailand selatan, minoritas,   Views: 1301


Pada tahun 1982 diadakan pertemuan di Malaka yang diikuti oleh utusan beberapa negara Asia tenggara termasuk Thailand. Pada kesempatan itu, hadir 800 melayu muslim Thailand dan terdapat bebrapa lulusan Al Azhar mesir.

Mereka berceramah tentang kehidupan minoritas Muslim di Thailand. Secara geografis, umat Muslim di Thailand bertempat di empat wilayah selatan Thailand yaitu;
  • Patani
  • Yala
  • Narathiwat
  • Satun
 
Dengan jumlah penduduk melayu muslim di Thailand 710.906, dan jumlah umat muslim keseluruhan di Patani lebih dari 3 juta jiwa. Sedangkan mayoritas penduduknya beragama Budha. Kaum muslim di Thailand sendiri terbagi menjadi 2 bagian. Muslim melayu dan muslim non melayu. Dengan persentase 80% : 20%.
 
Dalam tatanan sosial, muslimin Thailand mendapatkan julukan yang kurang enak untuk didengar. Yaitu khaek yang berarti orang luar, pendatang atau tamu. Meskipun pada mulanya khaek merupakan term untuk makro-etnis bagi orang selain Thai tapi lama kelamaan term tersebut dipakai pemerintah untuk mendeskripsikan kaum melayu-muslim di selatan Thailand.
 
Hingga istilah Thai-Islam dibuat pada 1940-an. Akan tetapi istilah ini menimblkan kontradiksi karena istilah “Thai” merupakan sinonim dari kata “Budha” sedangkan “Islam” identik dengan kaum muslim melayu pada waktu itu. Jadi bagaimana mungkin seseorang menjadi budha dan muslim pada satu waktu? Maka dari itu kaum muslim melayu lebih suka dipanggil Malay-Islam.
 


Dari problem rasial seperti di atas, timbullah pengelompokan kaum muslim di Thailand menjadi 2 golongan.
  • Pertama, assimilated group. Atau golongan yang terasimilasi atau berbaur dengan kaum mayoritas yaitu agama masyarakat Thai-Budha pada segala bidang tatanan kehidupan hanya saja tidak sampai pada masalah keagamaan.
  • Kedua, unassimilated group. Atau golongan yang tidak berbaur namun menyendiri di Thailand bagian selatan. Yang masih menunjukkan kultur melayu-Islam pada nama, bahasa dan adat. Golongan ini bertempat tinggal di daerah Yala, Narathiwat dan Pattani. Kecuali daerah Satun yang sudah terasimilasi dengan kelompok mayoritas Thai.
 
Dalam kaca mata historis, kehidpan sosio-politik kaum muslim Thailand selatan khususnya di patani bisa dibagi menjadi tiga fase.
 
 
Fase Kerajaan Melayu Pattani
Menurut A.Teeuw dan Wyatt kerajaan ini berdiri sendiri tanpa aturan dari kerajaan Siam atau Thailand. Fase ini dimulai sekitar abad ke-14. dimana kerajaan melayu patani telah dibentuk,

“A.Teeuw dan Wyatt berpendapat bahawa Patani telah ditubuhkan sekitar pertengahan abad ke-14 dan ke-15. Pendapat mereka berasaskan kepada tulisan Tomes Pires dan lawatan Laksamana Cheng Ho ke rantau ini dalam tahun 1404-1433 T.M. (Teeuw & Wyatt 1970).

Mengikut Hikayat Patani pula, Kerajaan Melayu Patani berasal dari kerajaan Melayu yang berpusat di Kota Mahligai yang diperintah oleh Phya Tu Kerab Mahayana (Teeuw & Wyatt 1970).
 
Kehidupan Pattani di semenanjung Siam yang strategis menjadi tujuan pedagang pedagang dari berbagai penjuru dunia, sehingga menjadikan patani daratan yang ramai dan sibuk. Sehingga dalam waktu yang singkat patani telah menjadi kerajaan yang kuat dan ramai dari segi ekonomi maupun politik. Hubungan patani dengan luar negeri yang baik menjadikannya selamat dari penjajahan negara Siam, Portugis dan Belanda.
 
Islam masuk di kerajaan Melayu-Pattani sekitar abad ke-13. Nik Anuar Nik Mahmud menambahkan bahwa Islam masuk ke kerajaan patani pada abad ke-13 dan lebih awal dari malaka, Islam telah bertapak di Patani lebih awal daripada Melaka (Mills 1930). Dalam hal ini, Teeuw danWyatt berkeyakinan bahawa Islam telah bertapak di Kuala Berang, Terengganu, yaitu pada sekitar 1386- 87 T.M. (Teeuw & Wyatt 1970).
 
Keadaan yang seperti ini menjadikan kerajaan melayu Patani menjadi tujuan para pedagang pedagang muslim maupun non muslim dari belahan bumi barat dan menancapkan ajaran agama Islam pada sekitar abad ke-13.


Fase kerajaan Melayu-Pattani dalam kekuasaan kerajaan Siam
Fase ini dibagi menjadi beberapa bagian dimana kerajaan melayu Pattani mendapatkan hak otonomi dari kerajaan Siam sebelum tahun 1808 M. Dan lambat laun mendapat pengaruh dari Sukhotai. Penjelasan struktur melayu patani di bawah kekuasan Thailand ada pada data berikut ini,
 
  • Pra-1808 Patani adalah sebuah negara otonom dan secara bertahap menjadi di bawah pengaruh Sukhothai.
  • 1808 Bangkok memerintah dan dibagi menjadi 7 Muang Patani [negara]: (1) Patani (2) Nongchik (3) Yaring (4) Raman (5) Yala (6) Saiburi (7) Rangae
  • 1832 dan 1838 Terjadi pemberontakan 
  • 1901 Bangkok di bawah Rama V menetapkan administrasi pusat provinsi dan menerbitkan "Aturan Tentang Administrasi Area dari Tujuh Propinsi" yang bertujuan untuk meningkatkan kontrol terpusat Thailand atas wilayah tersebut.
  • 1902 Raja Patani, Abdul Kadir, memimpin pemberontakan terhadap Reformasi Thailand.
  • 1906 The "Tujuh Serikat" dibuat menjadi Lingkaran [Monthon] Patani
  • 1909 Perjanjian Inggris-Siam didirikan perbatasan hadir antara Thailand dan Malaysia.
  • 1932 Revolusi menggulingkan monarki
  • 1933 Dihapus sistem Lingkaran; re-organisasi dari daerah selatan menjadi (1) Provinsi Pattani (2) Provinsi Yala (3) Provinsi Narathiwat dan (4) Provinsi Satun
 
Dari data di atas terlihat jelas bahwa muslim Pattani menjadi minoritas yang sepenuhnya diatur di bawah kekuasaan Thailand. Hingga pada akhirnya muslim Thailand yang berada di wilayah selatan Thailand dibagi dalam empat propinsi, Patani, Yala, Narathiwat dan Patun.


Fase Modern Muslim Thailand Selatan
Dimana masuknya pengaruh pengaruh barat pada awal abad ke-19 telah mengubah Siam menjadi modern pada berbagai bidang, ekonomi, politik dan pendidikan.  Hal serupa telah memberi pengaruh pada generasi muda muslim Thailand selatan yang selama ini dalam kekuasaan Thailand dan menumbuhkan semangat nasionalisme dalam diri mereka untuk menjadi merdeka dan berdiri sendiri dari kekangan Thailand.
 
Dimulailah perjuangan utuk menuntut kemerdekaan bagi wilayah muslim Thailand pattani dan empat wilayah lainnya di Thailand selatan. Kesempatan untuk merdeka semakin terbuka lebar ketika terjadi terjadi perang pasifik dengan Thailand dan Jepang melawan Britain dan Amerika.

Setelah kekalahan Britainia di melayu dan kekalahan Amerika di Hawai, pada 21 Desember 1941, Pibul Songgram berpihak kepada Jepang. Sebagai imbalan, Jepang berjanji akan menyerahkan wilayah melayu utara, Kelantan, Kedah, Trengganu dan Perlis Kepada Thailand.
 
Pada 25 januari 1941, Thailand mengobarkan perang melawan Britainia, akan tetapi berbeda dengan Amerika yang membiarkan kedua negara tersebut bertikai. Hal ini dimanfaatkan oleh Pattani dan wilayah muslim Thailand selatan untuk memanfaatkan Britain membantu mereka merdeka dari belenggu Thailand dan dipimpin oleh tengku Muhyidin.
 
Akan tetapi Britainia mempunyai kehendak lain dibalik perseteruannya dengan Thailand sehingga tengku Muhyidin sadar bahwasanya dirinya telah menjadi mangsa percaturan politik Britain-Thailand.
 
Kegagalan tengku Muhyidin dalam membebaskan wilayah selatan Thailand telah menggalakkan ulama muslim untuk turun berjuang di wilayah terbuka. Akan tetapi mereka sadar bahwa keadaan politik yang ada menjadikan mereka sulit untuk mendapatkan kemerdekaan.

Lebih lebih ketika Britainia dan Amerika mengakui kedaulatan Thailand pada 1 janurai 1941. Hal ini menyisakan satu solusi bagi umat muslim di Thailand selatan, yaitu menuntut otonomi penuh bagi empat wilayah Thailand selatan dari penguasa thailand. (Habis)
comments powered by Disqus