Waspadai Aksi Kejahatan Selama di Ibadah Haji

Kamis, 27 September 2012   Tags: waspadai, aksi kejahatan, ibadah haji   Views: 363


MAKKAH--Jamaah haji Indonesia kerap menjadi korban kejahatan selama berada di Tanah Suci. Kepala Seksi Keamanan Daerah Kerja Makkah, Letkol Jaetul Muchlis, mengimbau kepada seluruh jamaah haji untuk mewaspadai aksi kejahatan.
‘’Selama di tanah suci, aksi kejahatan bisa terjadi di tempat ibadah, pemondokan, serta rute perjalanan dari tempat ibadah ke pemondokan,’’ ujar Jaetul, Kamis (27/9).
 
Menurut dia, bentuk kejahatan yang kerap dialami jamaah haji Indonesia antara lain; penipuan, pencurian, serta perampasan, dan bisa pula pelecehan seksual. Jamaah diimbau untuk mewaspadai orang-orang yang baru ditemui saat berada di Tanah Suci.
 
‘’Ada yang pura-pura mau membantu, padahal mereka pelaku kejahatan,’’ ungkap Jaetul. Pelaku kejahatan itu, sambung dia, banyak pula yang berasal dari Indonesia. Bahkan, ada pula yang mengaku-ngaku sebagai petugas haji Indonesia.
 
Pihaknya mengingatkan jamaah agar memastikan orang yang mengaku-ngaku sebagai petugas menunjukkan identitasnya. Jaetul menyarankan agar seragam petugas haji setiap tahun diganti baik warna maupun modelnya agar tak mudah ditiru oleh pelaku kejahatan.
 
Jamaah yang tersesat saat melaksanakan ibadah diimbau agar tak panik. ‘’Misalnya, saat thawaf terpisah dari rombongan. Tak usah panik, lakukan saja urutan ibadah sebagaimana manasik haji yang telah dipelajari,’’ papar perwira yang berasal dari TNI Angkatan Udara itu.
 
Menurut dia, kepanikan akan menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada jamaah. Akibatnya, jamaah menjadi sasaran empuk pelaku kejahatan. Jaetul menegaskan, di sekitar Masjidil Haram akan ada petugas haji yang akan membantu jamaah yang tersesat.
 
Jamaah juga diingatkan untuk mewaspadai aksi pemerasan di sekitar bukit Marwa, setelah melakukan sa’i. Para pemeras itu biasanya menawarkan jasa tahalul atau menggunting rambut kepada jamaah. ‘’Ujung-ujungnya mereka akan memeras jamaah. Ini juga harus diwaspadai.’’
 
Jaetul menyarankan jamaah haji yang tersesat segera kembali ke Masjidil Haram jika posisinya masih dekat dengan masjid. Jika tersesat dan berada jauh dari Masjidil Haram, jamaah diimbau untuk mengontak petugas atau teman yang dekat.
 
Jamaah haji pun diingatkan untuk berhati-hati saat berbelanja. ‘’Orang Indonesia kan dikenal senang berbelanja. Waspadai penipuan, pencurian, atau perampasan saat akan berbelanja,’’ tutur Jaetul. Ia menyarankan agar jamaah menyurvei terlebih dahulu barang yang akan dibeli sebelum berbelanja.
 
‘’Jangan membawa uang yang berlebihan, secukupnya saja,’’ ungkapnya. Jamaah yang membawa uang dalam jumlah yang sangat banyak rawan menjadi sasaran para pelaku kejahatan.
 
Para jamaah juga perlu mewaspadai pengemis yang ditemui di jalan-jalan. Di Tanah Suci kerap ditemukan penipuan yang dikemas dalam bentuk meminta-minta. Lagi-lagi, jamaah haji Indonesia selalu menjadi sasaran karena kerap tak tega dengan peminta-minta.
 
Sedangkan, saat akan meninggalkan pemodokan, para jamaah bisa menitipkan barang-barang berharganya di kotak deposit yang tersedia di setiap pemondokan. Sangat sering, kata dia, jamaah kehilangan uang dan barang-barang berharga yang ditinggalkan di kamar hotel.
 
‘’Idealnya, di setiap pemondokan dilengkapi dengan CCTV,’’ tutur Jaetul. Keberadaan CCTV, kata dia, dapat mencegah terjadinya tindakan kejahatan. ‘’Sangat bagus kalau itu masuk dalam perjanjian antara pemerintah Indonesia dengan pihak yang menyewakan pondokan.’’
 
Diakuinya, saat ini, jumlah petugas keamanan haji dari Indonesia masih sangat minim. Di setiap sektor – yang jumlah jamaahnya mencapai 20 ribu orang – hanya ada satu petugas keamanan.
 
Jaetul menyarankan ke depan semua petugas haji dibekali pengetahuan pengamanan. ‘’Bisa juga petugas dari Polri dan TNI tahun depan jumlahnya terus ditambah.’’ (MCH)
comments powered by Disqus