Dua Calon Jamaah Haji Jatim Wafat Sebelum Berangkat

Senin, 24 September 2012   Tags: jamaah, haji, jatim, wafat   Views: 337


Dua calon haji Jawa Timur yang gagal menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, karena wafat sebelum berangkat, yakni Podjie Wiyono Sodiharjo (66) asal Nganjuk dan Azis Arpin Ngak bin Arifin (64) asal Probolinggo.
 
"Pak Podjie Wiyono Sodiharjo menghadap Ilahi jauh sebelum masuk asrama haji," kata Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nganjuk Drs HM Nur Sjamsuddin AM MSi di Surabaya, Senin.
 
Mantan salah satu Kasi di Bidang Gara Hazawa Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur itu ikut mengantar keberangkatan calon haji asal Nganjuk pada Sabtu (22/9) malam dan dijadwalkan tiba di Tanah Suci pada Minggu (23/9) dini hari.
 
"Almarhum sudah melunasi biaya (BPIH atau biaya penyelenggaraan ibadah haji), sehingga namanya masuk dalam daftar pramanifes jamaah haji, tapi karena sudah wafat ya tidak bisa berangkat," kata pria yang kini tinggal di Sidoarjo tersebut.
 
Selain Podjie dari kloter 4 (22/9), di kloter 6 (23/9) juga ada satu calon haji yang wafat sebelum berangkat, yakni Azis Arpin Ngak bin Arifin (64) dari Desa Jurang Dalam, RT 21 RW 10, Kedung Rejoso, Kota Anyar Probolinggo.
 
Hingga Minggu (23/9), petugas masih menemukan benda-benda terlarang pada Kloter Bojonegoro, seperti korek api, pisau, gunting dan lain-lain, sedangkan Kloter Nganjuk relatif lebih disiplin dengan tidak membawa benda-benda tersebut dalam tas dada dan tas tenteng.
 
"Kami terus-menerus melakukan sosialisasi, terutama saat manasik, jamaah boleh membawa benda-benda seperti gunting, pisau, alat cukur, paku, palu dan lain-lain, tapi letakkan di tas besar, jangan diletakkan di tas tenteng atau tas dada," kata Nur Syamsuddin tentang kiat agar calon haji tidak membawa benda-benda terlarang.
 
Lain halnya dengan calon haji asal Kloter 5 dari Kabupaten Probolinggo yang di dalam kopernya justru penuh berisi obat-obatan, sehingga petugas jaga mesin X-ray di hall Mina AHES pun curiga.
 
Setelah itu, pemilik koper yang bernama Sri Ulin bt Durasman diminta untuk membuka koper tersebut dan ternyata isinya penuh dengan obat-obatan dan peralatan medis.
 
Awalnya, petugas mengira bahwa si pemilik koper tersebut akan menjual obat-obatan dan peralatan medis tersebut di Tanah Suci, namun pemilik koper menyatakan isinya merupakan titipan dari petugas kesehatan kloter 5 untuk selama pelaksanaan ibadah haji.
 
Pemilik koper pun memanggil ketua kloter yang akhirnya menjelaskan bahwa barang tersebut pemberian dari Bupati Probolinggo H Hasan Aminuddin untuk bekal tenaga medis yang bertugas supaya siap dengan obat-obatan yang sering dipakai jamaah dan sulit diketemukan di Saudi Arabia.
 
Petugas pemeriksaan akhirnya meminta saran petugas dari KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) untuk menanyakan tentang hal tersebut dan akhirnya disepakati untuk diperbolehkan atau diloloskan dibawa untuk bekal selama ibadah haji di Tanah Suci.
comments powered by Disqus